Persatuan Indonesia, Perjuangan Bersama Oleh Beragam Anak-anak Bangsa

Oleh
Sri Sultan Hamengkubuwono X
(Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta)

Sejarah telah menorehkan Ruh dan Semangat…yang bisa dilacak dari narasi-narasi kemanusiaan para pribadi pelaku sejarah. Sebelum 16 Agustus 1945, Fatmawati, isteri Bung Karno asal Bengkulu, sebenarnya sudah membuat bendera merah putih. Tapi hanya 50 sentimeter. Meski untuk sebuah Republik yang baru pun, bendera sepanjang itu dirasakan kurang menunjukkan keagungan.

Sebagai gantinya Fatmawati menjahit dari kain sprei putih, dan kain merahnya dibeli Lukas Kastaryo, pemuda Jawa-Katolik, dari penjual soto. Maka, jadilah bendera pusaka Sang Saka Merah Putih berukuran (276×200) sentimeter. Yang kemudian dibawakan di atas nampan oleh Ilyas Karim, pemuda Minang, didampingi Suhud dan Singgih, dua pemuda Jawa. Dikibarkan dengan tiang bambu sederhana oleh Latif Hendraningrat, prajurit PETA, keturunan Jawa asli Betawi. Sebelum ditangkap, Bung Karno menitipkan Sang Saka kepada Husein Mutahar, seorang Arab. “Pertahankan dan lindungi dengan nyawamu!”, demikian pesan Bung Karno kepadanya.

Setelah membacakan Proklamasi, Bung Karno membuang kertas teks bersejarah itu ke dalam tong sampah. Beruntung wartawan BM Diah, pemuda Aceh, memungut dan menyimpannya. Ia baru menyerahkannya kepada pemerintah pada 29 Mei 1992, setelah dianggap hilang selama 46 tahun 9 bulan 19 hari. Bersyukur ritual Proklamasi itu diabadikan oleh Frans Mendoer, fotografer Kristen-Menado. Semula negatifnya akan dirampas balatentara Jepang. Tapi Frans berbohong, bahwa sudah diserahkan kepada Barisan Pelopor. Padahal, ia tanam di halaman Kantor Asia Raja. Andaikan sempat dirampas, tentu kita tidak akan pernah bisa melihat momen historis-dramatis peristiwa Proklamasi yang menentukan perjalanan sejarah bangsa Indonesia.

Dalam prosesi sederhana ini, atas nama Bangsa Indonesia, Soekarno, pemuda berdarah Jawa-Bali, didampingi Muhammad Hatta, urang awak asli Minang, memproklamirkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Naskah proklamasi diketik Sayuti Melik, pemuda Jawa, menggunakan mesin ketik pinjaman dari kantor Kepala Perwakilan Angkatan Laut Jerman, Mayor (L) Dr. Hermann Kandeler. Konsep isi teks proklamasi dirapatkan di rumah Laksamana Maeda, serdadu Angkatan Laut Jepang. Malam hari sebelum Proklamasi, Soekarno-Hatta “diculik” oleh Sukarni, pemuda asal Blitar, Chairul Saleh gelar Datuk Paduko Rajo kelahiran Sawahlunto, dan Wikana, pemuda blasteran Jawa-Sunda. Rapat kilat soal narasi Proklamasi dilaksanakan di desa Rengasdengklok, di rumah seorang Tionghoa, Djiaw Kie Siong.

Ketika Soekarno-Hatta dalam tahanan di Menumbing, Bangka, diplomasi perjuangan dilakukan oleh Sjahrir, orang Minang. Sedang untuk negara-negara Timur Tengah, oleh Abdurrahman Baswedan, seorang Arab. Agar bisa memperoleh senjata dari pasar gelap, John Lie, prajurit Angkatan Laut keturunan Tionghoa, dengan berani menerobos blokade laut Belanda menuju Singapura. Dalam perang gerilya, Soedirman, Jenderal Jawa yang shaleh, memperpanjang nafas perjuangannya meski paru-parunya tinggal separuh.

Serangan Oemoem 1 Maret 1949, dirancang oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan dilaksanakan oleh gabungan lasykar lintas-suku dan agama di bawah komando Letkol. Soeharto, yang Jawa. Ketika Soekarno belum memiliki pesawat kepresidenan, para ulama Aceh mengumpulkan 20 kilogram emas dari saudagar dan rakyat untuk membeli pesawat RI-1 yang diberi nama Dakota 001 Seulawah, yang berarti Gunung Emas.

Maka, pada momentum ini, saya mengajak seluruh anak bangsa, baik yang hadir di halaman Balairung UGM ini atau di mana pun di wilayah yang terbentang dari Sabang hingga Merauke dan dari Miangas hingga Rote, untuk “Merajut Kembali Persatuan Indonesia”, yang dijiwai oleh semangat peduli dan berbagi serta bergotongroyong antarsesama tanpa membeda-bedakan asal-usul suku, agama, dan golongan.